Jakarta 10 September 2025 – Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) melakukan audiensi ke Universitas Terbuka (UT) untuk menyampaikan aspirasi terkait pemenuhan hak-hak para penghayat kepercayaan yang telah diakui secara resmi oleh pemerintah.
Dalam pertemuan tersebut, MLKI menyoroti masih adanya kendala administratif yang dirasakan penghayat, khususnya dalam proses pendaftaran mahasiswa baru. Salah satu persoalan yang diangkat adalah belum tersedianya kolom kepercayaan pada formulir pendaftaran, sehingga penghayat sering kali harus memilih agama lain yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka.
“Penghayat kepercayaan sudah mendapat pengakuan dari negara melalui putusan
Permendikbud No 27 tahun 2016 tentang Layanan Pendidikan Penghayat Kepercayaan thd Tuhan YME
Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 97/PUU-XIV/2016 tentang Layanan Pengakuan Administrasi Penghayat Kepercayaan thd Tuhan YME namun dalam praktik di lapangan masih sering terjadi hambatan. Kami berharap Universitas Terbuka dapat menjadi pionir dalam memberikan ruang yang setara bagi penghayat,” ujar salah satu perwakilan MLKI.
Pihak Universitas Terbuka menyambut baik aspirasi tersebut dan menyatakan siap menindaklanjuti dengan kajian internal agar dapat menyesuaikan sistem administrasi sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kesetaraan hak bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali, termasuk para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Syukuran Malam 17 Agustus Aliran Kebatinan Perjalanan Peringati HUT RI ke-80
Jakarta Timur – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, organisasi Aliran Kebatinan Perjalanan (AKP) menggelar Syukuran Malam 17 Agustus di Pasewakan Budi Kinasihan, Jakarta Timur. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat, pengurus wilayah DKI, para sesepuh, penyuluh kepercayaan, serta warga Perjalanan dari berbagai wilayah.
Suasana malam syukuran berlangsung khidmat sekaligus hangat, diawali dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang sarat makna.
Pesan Penasehat DKI Jakarta
Dalam pesannya, Penasehat DKI Bpk Marta menekankan pentingnya kontribusi warga Perjalanan dalam mengisi kemerdekaan. Beliau mengingatkan kembali ajaran luhur Perjalanan bahwa “Pintar itu urutan keempat: cager, bageur, bener, pinter.” Artinya, seseorang harus sehat terlebih dahulu, kemudian berperilaku baik, memiliki pengetahuan yang benar, barulah kepintaran akan membawa keselamatan nyata. Tentunya hal tersebut bisa menjadi dasar kita dalam mengisi kemerdekaan.
Pesan Ketua DKI Jakarta (diwakili Ketua Tk. II Jakarta Timur, Bapak Mudin)
Mewakili Ketua DKI, Bapak Mudin menyampaikan bahwa ruang kemerdekaan bagi Penghayat kini sudah sangat terbuka. Salah satu bukti nyata adalah pengakuan hak sipil melalui kolom kepercayaan pada KTP, yang merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu dan pengurus organisasi. “Untuk itu, Ketua DKI menghimbau agar eksistensi Penghayat dapat dijalankan tanpa rasa ragu dan takut. Secara hukum dan undang undang kita dilindungi, tinggal bagaimana kita mau atau tidak,” ujarnya.
Paparan Penyuluh Kepercayaan
Penyuluh, Bapak Rohmat Hidayat, menekankan pentingnya regenerasi dalam tubuh organisasi. Beliau menyampaikan bahwa generasi muda harus didorong dan diberi ruang seluas-luasnya untuk berperan. “Bukan hanya sebatas rencana, tapi harus diwujudkan dalam pelaksanaan nyata,” tegasnya.
Pesan Sekjen Dewan Musyawarah Pusat (DMP)
Sekretaris Jenderal DMP, Heru Hustanto menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga Aliran Kebatinan Perjalanan di seluruh Indonesia yang turut memperingati HUT RI ke-80. Ia mengingatkan bahwa perjuangan organisasi harus terus dilanjutkan dengan semangat tanpa pamrih, penuh pengorbanan, serta konsisten dalam perjuangan termasuk memperjuangkan hak-hak sipil Penghayat agar bisa terwujud dan terlaksana.
“80 tahun merdeka, mari kita jaga makna bendera merah putih yang sejati. Bukan hanya simbol, tapi perjuangan, darah, dan air mata bangsa. Cinta tanah air tak ada kompromi. Merdeka bukan sekadar bebas, tapi menghargai warisan yang telah dibangun dengan pengorbanan. tidak ada selain Merah Putih bagi warga Aliran Kebatinan “Perjalanan” “Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga kesadaran berbangsa dan bernegara. Dengan kesadaran itu, akan lahir kecintaan sejati terhadap tanah air. Bila sudah cinta tanah air, maka kita tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang merugikan bangsa dan negara,” tegasnya.
Penutup
Acara syukuran ditutup dengan doa syukur, pemotongan tumpeng, dan ramah tamah antarwarga. Melalui peringatan ini, warga Aliran Kebatinan Perjalanan meneguhkan komitmen untuk terus menjaga semangat kemerdekaan, memperkuat persaudaraan, serta berkontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! Merdeka! Salam Rahayu
“80 tahun merdeka, mari kita jaga makna bendera merah putih yang sejati. Bukan hanya simbol, tapi perjuangan, darah, dan air mata bangsa. Cinta tanah air tak ada kompromi. Merdeka bukan sekedar bebas, tapi menghargai warisan yang telah dibangun dengan pengorbanan. #HUTRI80 #MerdekaSejati” 🇮🇩
Jakarta, 21 Juli 2025 – Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ketika Gedung Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa resmi difungsikan kembali sebagai pusat kegiatan spiritualitas nusantara. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, hadir langsung dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara pihak TMII dan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).
Simbol Ruang Inklusif bagi Penghayat Kepercayaan
Melalui MoU ini, gedung bersejarah tersebut resmi difasilitasi sebagai ruang ekspresi dan pelaksanaan kegiatan penghayatan serta spiritual bagi para penghayat kepercayaan. Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya leluhur sekaligus menyediakan ruang yang setara bagi semua tradisi spiritual.
“Gedung Sasana Adirasa adalah rumah budaya yang harus dijaga, dihormati, dan dihidupkan kembali. Di sinilah kita merawat kearifan leluhur dan memberikan ruang yang layak bagi penghayat kepercayaan untuk beraktivitas,” ujar Fadli Zon.
Rangkaian Acara Sakral
Acara pemanfaatan kembali gedung ini ditandai dengan prosesi Ruwatan yang dipimpin oleh Ki Anggana Hardosiswoyo dari Surakarta, serta ritual Malam Anggoro Kasih yang menjadi sarasehan rutin setiap 35 hari sekali. Kehadiran ratusan penghayat kepercayaan dari berbagai daerah menambah suasana sakral dan penuh makna.
Selain itu, Menteri Kebudayaan juga menerima cenderamata berupa lukisan karya generasi muda penghayat, simbol estafet warisan budaya yang terus hidup.
Dukungan dari TMII dan MLKI
Plt Direktur TMII, Ratri Paramitha, menyampaikan bahwa kerja sama ini adalah langkah strategis agar Sasana Adirasa kembali hidup dan bermanfaat. “Kami berharap, setiap akhir pekan gedung ini akan diisi dengan kegiatan para penghayat, menjadi pusat spiritual dan budaya yang terbuka untuk masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia acara, Endang Retno Lastani, menegaskan bahwa pemanfaatan gedung ini akan menjadi tonggak baru perjalanan penghayat di Indonesia.
Momentum Sejarah Baru
Kehadiran Sasana Adirasa yang kembali difungsikan tidak hanya sekadar peresmian, tetapi juga simbol pengakuan dan penguatan eksistensi penghayat kepercayaan dalam ruang publik nasional.
Acara ini dihadiri oleh pejabat TMII, pengurus MLKI, tokoh masyarakat, budayawan, serta perwakilan organisasi kepercayaan dari berbagai daerah.
Dengan MoU ini, diharapkan Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa benar-benar menjadi pusat spiritualitas nusantara, tempat di mana keberagaman tradisi dapat dirayakan dalam semangat persatuan dan kebudayaan Indonesia.