Sejarah

KEBATINAN ”PERJALANAN”

Wangsit tuntunan ajaran Kebatinan ”PERJALANAN” diterima pada tanggal 17 September 1927, tepatnya pukul 12.00 siang, baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama oleh Bapak Mei Kartawinata, Bapak M. Rasyid dan Bapak Sumitra bersifat suara yang didengar secara jelas dan gamblang dan dalam bentuk gerakan perbuatan yang dilakukan oleh beliau masing-masing dan/atau yang diperbuat oleh pihak lain terhadap beliau bertiga. Tepatnya adalah di kampung Cimerta Subang, Jawa Barat. Ketiga Bapak tersebut telah berikrar satu sama lain sebagai saudara untuk hidup rukun berdampingan dan saling mencintai. Namun demikian, meskipun sepanjang pandangan hidupnya mempunyai tujuan yang sama yaitu mencapai kesenangan, tapi cara dan ruang lingkupnya berlainan.

Bagi Bapak M. Rasyid yang disebut senang ialah bersifat sangat pribadi, yaitu untuk mencapainya (kalau perlu) dengan mengalahkan orang lain, baik dengan kekuatan jasmaniah maupun rohaniah. Maka beliau mempunyai kekuatan kanuragan dan jaya kawijayan. Pada waktu itu beliau belum mempunyai tandingannya. Hal ini membuat beliau menjadi senang, sebab segala kemauannya terpenuhi.

Bagi Bapak Sumitra, yang dinamakan senang  itu, bilamana   beliau   tidak   diganggu   oleh  orang   lain  dan beliaupun  tak perlu  mengganggu orang lain.  Untuk bisa mengimbangi suasana dan keadaan, jika sewaktu-waktu ada pihak   lain yang   berani   mengganggunya, beliau mempunyai  kekuatan kanuragan  dan  jaya  kawijayan juga,  sehingga  siap  untuk  menghadapinya  baik  secara jasmaniah    maupun    rohaniah. Beliau senang kalau suasana dan keadaan tenang-tenang saja.

Lain lagi bagi Bapak Mei Kartawinata, kesenangan itu  harus  meliputi setiap orang, tidak terkecuali dan dinikmatinya secara bersama-sama.  Maka  kesenangan  harus diwujudkan dan dipertahankan  secara  bersama-sama  pula. Dilihat dari sudut ini Bapak Mei Kartawinata merasa tidak perlu untuk mempunyai kanuragan dan jaya kawijayan, yang penting ialah pendekatan dan saling pengertian

Menurut anggapan Bapak M. Rasyid sikap ini adalah sangat lemah yang perlu dikasihani, sehingga   dengan   bangga   beliau  menyatakan  keinginannya  itu  menurunkan  segala ilmunya  dengan  segala  kemampuannya,  sebagai  tanda  kasih  sayang kepada saudara angkatnya.

Akan tetapi oleh Bapak Mei Kartawinata ditolak dengan cara yang halus. Oleh karena hal ini terjadi berulang kali, penolakan ini membuat Bapak M. Rasyid menjadi penasaran. Pada suatu hari tetangga dekat yang menjadi rekan sekerja bernama Sukarna jatuh sakit. Ia meminta pertolongan kepada Bapak M. Rasyid, akan tetapi tidak berhasil. Kemudian dimintanya pertolongan dari Bapak Sumitra, juga tidak berhasil akhirya dimintalah pertolongan dari Bapak Mei Kartawinata dan hasilnya di luar dugaan si sakit sembuh seketika.

Kenyataan itu membuat Bapak M. Rasyid menjadi berang dan tidak senang, bahkan menimbulkan prasangka, bahwa selama berlangsungnya ikatan persaudaraan Bapak Mei Kartawinata menyembunyikan ilmunya dan tidak terus terang. Oleh sebab itu Beliau merasa dikalahkan, dan membuatnya lebih penasaran lagi, Bapak M. Rasyid secara terbuka menantang Bapak Mei Kartawinata untuk mengadu kekuatan.

Sekalipun dengan amat merendah Bapak Mei Kartawinata menyatakan tidak mempunyai sesuatu ilmu apapun, tetapi hal ini menambah kemarahan Bapak M. Rasyid karena merasa diremehkan, Beliau menghina habis-habisan kepada Bapak Mei Kartawinata. Secara sepihak Bapak M. Rasyid menetapkan hari dan waktu untuk menyelesaikan perkelahian dengan bertempat di hutan tutupan Cimerta di pinggir kali Cileuleuy.

Menjelang saatnya tiba, Bapak Mei Kartawinata berputus asa setelah mempertimbangkan bahwa :

a.    Sangat sulit untuk dapat mengalahkan Bapak M. Rasyid.  Oleh  karena itu beliau akan lebih baik menemui ajalnya dari pada harus berkelahi. Kalaupun perkelahian itu sampai terjadi,  berarti  pembunuhan  terhadap  saudara  angkat  pun terjadi. Dan dengan dalih apapun hal itu adalah perbuatan yang tidak terpuji.

b.    Kalau  terus  mengalah  akan  menambah kemarahan Bapak M. Rasyid yang merasa dirinya diremehkan dan dikelabui oleh  saudara  angkat  yang menyembunyikan ilmunya, sehingga mungkin sekali apapun akibatnya yang harus dipikul Bapak M. Rasyid akan tetap bisa membunuhnya.

Kedua  hal  itu  tidak  boleh  terjadi  dan  satu-satunya pilihan agar hal itu tidak terjadi,  Bapak Mei Kartawinata memilih jalan bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri. Adapun tempatnya yang dipilih, yaitu jembatan gantung setinggi kurang lebih 10 meter dengan dasar bebatuan.

Di tengah perjalanan, entah dari mana datangnya dan siapa pula gerangan orangnya, dengan jelas Bapak Mei Kartawinata mendengar suara, yang untuk seterusnya dijadikan pegangan sebagai WANGSIT :

1. Janganlah membiarkan  dirimu dihina dan direndahkan oleh siapapun, sebab dirimu tidak lahir dan  besar oleh sendirinya,  akan tetapi dilahirkan dan dibesarkan penuh dengan cinta kasih Ibu dan Bapakmu.Bahkan dirimu itu sendirilah yang melaksanakan segala kehendak dan cita-citamu, yang seyogyanya kamu berterima kasih kepadanya.

2. Barang  siapa  menghina  dan  merendahkan dirimu, sama juga artinya dengan  menghina  dan  merendahkan  Ibu  Bapakmu, bahkan Leluhur  Bangsamu.

Suara itu menimbulkan semangat dan harapan baru. Dengan menyerahkan segala persoalan dan penyelesaiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam perjalanan pulang kembali Bapak Mei Kartawinata bertemu dengan Bapak Sumitra yang menyatakan akan membantunya melawan Bapak M. Rasyid. Pernyataan itu membuat Bapak Mei Kartawinata gembira. Setelah saatnya tiba, Bapak M. Rasyid datang menjemputnya dan kemudian pergi bersama-sama diikuti Bapak Sumitra, seolah-olah tiada suatu apapun di antara beliau bertiga, sehingga tidak mengundang kecurigaan apapun. Sesampainya ditempat yang telah ditentukan Bapak M. Rasyid langsung mengambil tempat dan duduk bersila seperti tafakur. Sedangkan Bapak Sumitra berdiri santai dan Bapak Mei Kartawinata berada di sisinya.

Kiranya dalam keadaan itu Bapak M. Rasyid memusatkan kekuatan magisnya untuk menguasai Bapak Sumitra, dan berhasil. Tanpa diduga sama sekali Bapak Sumitra melayangkan tendangannya kepada Bapak Mei Kartawinata, yang sempat terpenjat oleh keadaan yang sekonyong-konyong berubah dan berbalik. Masih untung tendangan itu dilakukan oleh Bapak Sumitra dalam keadaan tidak sadar diri, sebab jika hal itu terjadi dalam keadaan normal akibatnya akan lain.

Dengan daya reflek Bapak Mei Kartawinata berhasil menangkap kaki yang melayang dan bersamaan dengan itu mengangkatnya mengikuti ayunan kaki, sehingga tubuh Bapak Sumitra yang pendek kecil itu terangkat dan langsung dibanting ke atas tubuh Bapak M. Rasyid yang sedang khusuk bertafakur.

Kejadian yang tidak terduga ini menimbulkan dua akibat :

Pertama: Bapak  Sumitra  memperoleh  kesadarannya  kembali  dan  langsung  menyerang  Bapak M. Rasyid dan membuatnya tidak berdaya.

Kedua: Adanya    perubahan   situasi   yang  sangat  mendadak,  Bapak  M. Rasyid  kehilangan kontrol  diri,  sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk  menggunakan  ilmu  simpanannya  sehingga kehilangan segala daya dan kekuatan yang menjadi andalannya.

Maka   selesailah   perkelahian   dengan   ketegangannya,   yang   disusul   pernyataan   saling   maaf memaafkan dan berpelukan, dengan menghapus segala prasangka dan rasa bermusuhan. Maka lahirlah WANGSIT :

3. Tiada    lagi    kekuatan    dan    kekuasaan     yang    melebihi    Tuhan   Yang   Maha Belas dan Kasih.  Sifat Belas dan Kasih itupun dapat mengatasi dan menyelesaikan segala pertentangan/ pertengkaran   bahkan   dapat   memadukan  faham dan usaha untuk   mencapai   tujuan   yang   lebih   maju,   serta   menyempurnakan  akhlak dan meluhurkan budi pekerti manusia.

Menyusul  lahirnya  wangsit  ini,  Bapak-Bapak  ini  mengikrarkan untuk tidak akan lagi menggunakan semua kekuatan kanuragan dan jaya kawijayan untuk masa-masa selanjutnya.

Selesai  membenahi  diri  dan  beristirahat,  Bapak  Mei  Kartawinata  memperhatikan  aliran  sungai  Cileuleuy  sambil berbicara dalam hati  ”Alangkah besarnya Tuhan Yang Maha Esa, air yang keluar tetes demi tetes dari sumbernya bersatu padu sehingga mewujudkan kali. Dan selain itu sempat memberikan kesejahteraan pada pepohonan, binatang, bahkan kepada manusia, sambil terus menuju tujuan akhir, yaitu lautan. Sekiranya hal ini terjadi pada diri manusia, alangkah besar manfaatnya untuk kesejahteraan dunia dan isinya, dan kembali kepada asal semuanya, ialah Tuhan Yang Maha Esa”.

Seketika itu terdengarlah suara tanpa wujud dan rupa oleh ketiga Bapak itu bersifat WANGSIT :

4. Dengan  kagum  dan  takjub kamu menghitung tetesan air yang mengalir merupakan kesatuan   mutlak   menuju   lautan,  sambil   memberi   manfaat   kepada kehidupan manusia,   binatang   dan   tumbuh-tumbuhan.   Akan   tetapi   belum   pernah  kamu mengagumi   dan   takjub   terhadap   diri   sendiri  yang telah mempertemukan kamu dengan  dunia  dan  isinya.  Bahkan  belum  pernah kamu menghitung kedip matamu dan  betapa  nikmat yang kamu telah rasakan sebagai hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Karena suara itu terdengar dari dalam hutan, menimbulkan rasa kaget dan takut di antara beliau bertiga, dan serentak berlari bersama-sama ke arah pohon gempol yang letaknya agak jauh. Karena kehabisan nafas beliau bertiga duduk bersimpuh, tetapi seketika itu juga terdengar WANGSIT berturut-turut.

5. Ke  mana  kamu  pergi  dan di  mana  kamu  berada Tuhan  Yang Maha   Esa selalu beserta denganmu.

6. Perubahan   besar   dalam   kehidupan   dan   penghidupan   manusia akan menjadi pembalasan  terhadap segala penindasan  serta mencetuskan/ melahirkan kemerdekaan hidup bangsa.

Disebabkan badannya sudah terlalu lemah, maka beliau bertiga tetap berdiam diri sambil beristirahat pasrah terhadap keadaan  apapun yang akan terjadi. Sesudah pulih kekuatan dan akan pergi meninggalkan tempat, terjadilah sesuatu keganjilan.

 Bapak   Mei   Kartawinata   serasa   mendengar   semua   pepohonan,   binatang  dan lain-lain yang ditemui semuanya berbicara, bahwa semuanya itu telah memenuhi kewajiban hidupnya masing-masing dengan dipotong, dimakan dan  atau digunakan keperluan hidup umat manusia.

Dan semuanya mengajukan pertanyaan, apakah darmanya manusia telah dilaksanakan untuk kepentingan dunia dan isinya. Dengan terus berlarian kian kemari, Bapak Mei Kartawinata mencoba menghindarkan pertanyaan itu, namun tetap tidak berhasil.

Lain halnya dengan Bapak M. Rasyid yang hidupnya dimasa lalu penuh dengan pemuasan nafsu tanpa menghiraukan perasaan  orang lain, seakan-akan semuanya ada yang memusuhinya. Kerbau, Kambing yang ada di tegalan semua menerjang.

Bahkan perempuan-perempuan yang dijumpainya menyerang dan memukulinya dengan segala apa yang ada untuk dipukulkan maka lahirlah WANGSIT :

7. Apabila  pengetahuan  disertai  kekuatan  raga  dan  jiwamu  digunakan secara salah untuk  memuaskan  hawa  nafsu,  akan  menimbulkan  dendam  kesumat, kebencian, pembalasan dan perlawanan.  Sebaliknya  apabila  pengetahuan dan kekuatan raga dan  jiwamu  digunakan  untuk  menolong  sesama  akan menumbuhkan  rasa kasih sayang dan persaudaraan yang mendalam.

Lain halnya dengan Bapak Sumitra yang setiap kali menemui bangkai binatang apa saja, beliau memungut dan menangisinya serta merawat/membungkusnya dengan baik layaknya jenazah manusia. Dan kemudian menguburnya dengan baik pula. Maka lahirlah WANGSIT :

8.  Cintailah  sesama  hidupmu  tanpa  memandang jenis dan rupa, sebab apabila hidup telah  meninggalkan  jasad,  siapapun  akan  berada dalam keadaan sama tiada daya dan upaya. Justru karena itu,  selama  kamu  masih hidup berusahalah agar dapat memelihara  kelangsungan  hidup  sesamamu  sesuai  dengan  Kodratnya menurut kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika ketiga Bapak itu berkumpul kembali di pinggir kali tempat semula, di tengah kali terlihat batu besar yang menyolok. Terdengarlah suara petunjuk lirih, bahwa batu itu mengandung kekayaan.

Serentak dengan tak berpikir panjang beliau bertiga masuk kali sambil mengeruk-keruk dan mencari-cari kekayaan, apakah gerangan yang ada di batu itu yang bisa membuat kaya raya. Setelah beberapa waktu giat mencari dan tidak berhasil, beliau bertiga kembali ke pinggir, sambil terus mengamati batu itu. Selang beberapa saat, datanglah seorang tetangganya sekampung bernama Sukarlin, yang membawa palu, pahat dan pikulan menuju batu itu.

Dengan penuh keheranan ketiga Bapak itu melihat dan memperhatikan segala tingkah polah Pak Sukarlin yang langsung membelah-belah batu tersebut dan sesudah penuh terus dibawa pulang. Dari itu lahirlah WANGSIT :

9. Batu  di  tengah  kali, jikalau oleh mu digarap menurut kebutuhan, kamu bisa menjadi kaya  raya  karenanya.  Dalam  hal  itu yang membuat kaya raya bukanlah pemberian batu itu, akan tetapi adalah hasil kerjamu sendiri.

Memang Pak Sukarlin menjadi kaya raya di kampungnya karena berjualan batu dalam bentuk kubikan, dan ketika beliau bertiga bersiap untuk pulang terdengarlah suara WANGSIT :

10. Geraklah untuk kepentingan sesamamu, bantulah  yang  sakit  untuk  mengurangi penderitaannya.   Jaga   (bahasa   Sunda   =   kelak,   kemudian  hari)  akan  tercapai masyarakat kemanusiaan yang menegakan kemerdekaan dan kebenaran.

*) Keterangan :
Jika diperhatikan istilah sakit dalam wangsit ini ada hubungannya dengan kemerdekaan, kiranya bisa dipastikan sakit di sini tidak sakit karena penyakit. Namun sakit karena penjajahan dan penindasan (wangsit 6).